Sunday, October 23, 2011

LAYANAN BIMBINGAN "PEMBERIAN INFORMASI"


A.    Tujuan Pemberian Informasi dan Tipe-Tipe Informasi
1.      Tujuan Informasi
Layanan pemberian informasi diadakan untuk membekali para siswa dengan pengetahuan tentang data dan fakta di bidang pendidikan sekolah, bidang pekerjaan dan bidang perkembangan pribadi-sosial, agar mereka belajar tentang lingkungan hidupnya serta lebih mampu mengatur dan merencanakan kehidupannya sendiri.
                   
2.      Tipe-Tipe Informasi
Ada tiga tipe dasar, yaitu:
a.       Informasi tentang pendidikan sekolah yang mencakup semua data mengenai variasi program pendidikan sekolah dan pendidikan prajabatan dari berbagai jenis. Bagi siswa-siswi di jenjang pendidikan menengah, informasi meliputi data dan fakta tentang instutusi pendidikan tempat mereka terdaftar sekarang ini, serta data tentang kesempatan (luas-sempit), dan kemungkinan (besar-kecil) untuk melanjutkan ke institusi pendidikan formal lebih tinggi atau memasuki aneka jalur pendidikan nonformal sebagai pendidikan prajabatan.
b.      Informasi tentang dunia pekerjaan yang mencakup semua data mengenai jenis-jenis pekerjaan yang ada di masyarakat (fields of occupation), mengenai gradasi posisi dalam lingkup suatu jabatan (level of occupation), mengenai persyaratan tahap dan jenis pendidikan, mengenai sistem klasifikasi jabatan, dan mengenai prospek masa depan berkaitan dengan kebutuhan riil masyarakat akan jenis/ corak pekerjaan tertentu.
c.       Informasi tentang proses perkembangan manusia muda serta pemahaman terhadap sesama manusia mencakup semua data dan fakta mengenai tahap-tahap perkembangan serta lingkungan hidup fisik dan psikologis, bersama dengan hubungan timbal balik antara perkembangan kepribadian dan pergaulan sosial di berbagai lingkungan masyarakat.

B.      Pengumpulan Bahan Informasi
1.      Bentuk-Bentuk dan Sumber-Sumber Bahan Informasi
Bentuk konkret bahan informasi dapat berupa empat macam, yaitu lisan, tertulis, audiovisual, dan disket program komputer. Bentuk tertulis mendapat tempat utama dan mengenal banyak ragam, seperti deskripsi jabatan. Bentuk lisan disajikan melalui ceramah umum, secara tanya jawab, dan wawancara. Bentuk audiovisual meliputi penggunaan audiovisual, videokaset, Video Compact Disc, slides, dan film sebagai perangkat lunak. Bentuk program komputer memungkinkan siswa meminta informasi dari komputer mengenai dunia pekerjaan dan program variasi program pendidikan, atau mengadakan interaksi dengan komputer dalam rangka pengambilan keputusan tentang rencana masa depan.
            Berbagai sumber informasi adalah badan pemerintah pusat yang bergerak di bidang pelayanan dan pendidikan, seperti Departemen-Departemen Pertanian, Perdagangan, Pertahanan dan Keamanan, Pendidikan dan Kebudayaan, dan Tenaga Kerja.

2.      Akumulasi dan Pengelolaan Bahan Informasi
Bahan informasi yang berbentuk terbitan/ cetakan dikumpulkan oleh seorang tenaga bimbingan yang bekerja sama dengan petugas perpustakaan mengenai cara memesannya. Terbitan/ cetakan ditaruh dalam lemari pustaka dekat ruang kerja staf/ personil bimbingan dan di ruang perpustakaan sekolah. Koleksi buku, pamflet, brosur, selebaran serta kliping yang aktual secara berkala diperiksa kembali, terutama mengenai kebahruannya. Yang sudah tidak akurat lagi perlu dikeluarkan dan diganti dengan yang lebih baru, kalau ada. Bahan informasi dalam bentuk audiovisual, sejauh tersedia dan terjangkau oleh daya beli sekolah, akan dipegang tenaga bimbingan sendiri utnuk dipergunakan pada waktu-waktu tertentu. Bahan informasi dalam bentuk program komputer memerlukan penelitian yang seksama sebelum dipesan, sesuai dengan pedoman kriteria karena pembiayaannya mahal dan perawatan perangkat lunak serta perangkat keras membutuhkan perhatian khusus.

C.    Penggunaan Informasi untuk Keperluan Bimbingan
1.      Dalam Pelayanan Individual
Pelayanan bimbingan secara individual terutama terlaksana dalam wawancara konseling. Selama proses konseling berlangsusng, konselor akan memberikan informasi kepada konseli. Konselor tidak menjadi seorang penyebar informasi saja, melainkan seorang yang memasukkan informasi yang relevan ke dalam proses konseling sebagai unsur yang harus ikut dipertimbangkan, agar konseli dapat menyelesaikan masalahnya secara tuntas.
            Konselor dapat menyampaikan informasi yang dibutuhkan dengan cara menunjukkan bahan informasi dalam berbagai bentuk, atau dengan cara langsung memberikannya secara lisan. Bahan informasi dalam bentuk terbitan/ cetakan biasanya sering digunakan.

2.      Dalam Pelayanan Kelompok
Pemberian informasi secara kelompok dapat membantu siswa-siswi dalam perencanaan masa depan, juga membawa sejumlah keuntungan sebagai berikut:
a.       Menghemat waktu dan tenaga.
b.      Menciptakan kesempatan bagi semua siswa untuk berinteraksi dengan tenaga bimbingan.
c.       Menyadarkan siswa bahwa kenyataan yang sama juga dihadapi oleh teman-temannya.

Kelemahannya adalah:
a.       Kebutuhan individual masing-masing siswa akan informasi yang lebih spesifik tidak dapat sepenuhnya dilayani.
b.      Tidak semua siswa akan tertarik dan melibatkan diri.

3.      Laboratorium Bimbingan Karier
Laboratorium Bimbingan Karier (Guidance Career Center, Guidance Resource Center, Career Information Center) merupakan sarana baru untuk memberikan pelayanan bimbingan karier yang dikembangkan di Amerika Serikat sejak 20 tahun yang lalu. Laboratorium ini merupakan pusat kegiatan bimbingan karier yang melayani siswa-siswi yang membutuhkan bantuan dalam merencanakan masa depannya setelah tamat sekolah menengah, termasuk di dalamnya informasi karier. Di pusat ini tersedia bahan informasi karier dalam bentuk terbitan/ cetakan, audiovisual, dan program komputer, serta alat-alat tes untuk mengukur minat dan bakat. Personil yang melayani para siswa adalah tenaga konselor karier profesional dan tenaga paraprofesional.

                                               
DAFTAR PUSTAKA
Winkel, W. S & Sri, Hastuti. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.

LAYANAN BIMBINGAN "PENGUMPULAN DATA"


Pengumpulan Data (appraisal) merupakan salah satu komponen dalam program bimbingan yang sekaligus menjadi salah satu layanan bimbingan. Tujuan dari pengumpulan data ialah mendapatkan pengertian yang lebih luas, lebih lengkap dan lebih mendalam tentang masing-masing peserta didik, serta membantu siswa dan mahasiswa memperoleh pemahaman akan diri sendiri. Komponen pemgumpulan data mencakup penggunaan aneka teknik, metode dan alat, memperoleh serta menyimpan informasi tentang berbagai aspek pada orang yang dibimbing (assessment). Analisis dan sintesis data tentang seseorang kerap mengandung unsur evaluasi, yaitu menarik suatu kesimpulan tentang kelebihan dan kekurangan. Hasil analisis dan sintesis data yang terkumpul akan membantu siswa dan mahasiswa untuk melengkapi, menyempurnakan, ataupun mengoreksi gambaran tentang diri sendiri.
            Dalam rangka layanan Pengumpulan Data di jenjang pendidikan menengah pada umumnya dibutuhkan data tentang masing-masing peserta dalam aspek-aspek sbb:
1.      Latar belakang keluarga
2.      Riwayat sekolah
3.      Taraf prestasi
4.      Taraf kemampuan intelektual atau kemampuan akademik
5.      Bakat khusus
6.      Minat terhadap bidang studi dan bidang pekerjaan tertentu
7.      Pengalaman di luar sekolah
8.      Ciri-ciri kepribadian yang tidak termasuk dalam nomor (4), (5), dan (6) di atas
9.      Kesehatan jasmani.

A.    Alat-Alat Tes
1.      Aspek-Aspek Testing yang Relevan
Testing adalah suatu metode penelitian psikologis untuk memperoleh informasi tentang berbagai aspek dalam tingkah laku dan kehidupan batin seseorang, dengan menggunakan pengukuran (measurement) yang menghasilkan suatu deskripsi kuantitatif tentang aspek yang diteliti. Alat yang digunakan adalah tes yang distandarisasikan (standardized test), yang memuat koleksi persoalan, pertanyaan atau tugas, yang dianggap representatif bagi aspek yang bersangkutan (sample of items). Tes merupakan instrumen penelitian yang objektif, yang berarti bahwa penyelenggaraan, pemeriksaan atau skoring, dan penafsiran tidak tergantung pada pendapat pribadi orang yang menggunakan alat itu.
            Tujuan digunakannya alat-alat tes:
a.       Untuk meramalkan atau memperkirakan
b.      Untuk seleksi
c.       Untuk klasifikasi
d.      Untuk evaluasi.

2.      Pembagian Alat-Alat Tes Menurut Isi
a.       Tes Hasil Belajar (Achievement Test): mengukur apa yang telah dipelajari di berbagai bidang studi.
b.      Tes Kemampuan Intelektual: mengukur taraf kemampuan berpikir.
c.       Tes Kemampuan Khusus atau Tes Bakat Khusus: mengukur taraf kemampuan seseorang untuk berhasil di bidang studi tertentu.
d.      Tes Minat: mengukur kegiatan apa yang paling disukai seseorang.
e.       Tes Perkembangan Vokasional: mengukur taraf perkembangan orang muda dalam hal kesadaran kelak akan memangku suatu pekerjaan atau jabatan (vocation).
f.       Tes Kepribadian: mengukur ciri-ciri kepribadian yang bukan khas bersifat kognitif.

3.      Program Testing dan Penggunaan Hasil Testing
Secara ideal siswa-siswi di jenjang pendidikan dasar sampai dengan jenjang pendidikan menengah dikenakan sejumlah tes yang diberikan pada waktu-waktu tertentu. Inilah program testing yang berlaku bagi semua siswa dan merupakan program testing umum. Program testing khusus ditujukan bagi siswa tertentu yang membutuhkan lebih banyak informasi tentang dirinya sendiri. Data hasil program testing umum dapat sangat berguna bagi keperluan layanan bimbingan. Data hasil program testing khusus bermanfaat bagi siswa yang sedang menjalani proses konseling.
            Shertzer dan Stone (1981) menyarankan, agar dalam rangka program testing umum selama masa pendidikan di jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah diberikan tes kemampuan intelektual paling sedikit empat kali, tes hasil belajar di semua bidang studi pokok paling sedikit tiga tahun sekali, dan tipe tes hasil belajar pada waktu-waktu tertentu.

B.     Alat-Alat Nontes
1.      Angket Tertulis
2.      Wawancara Informasi
3.      Otobiografi
4.      Anekdota
5.      Skala Penilaian
6.      Sosiometri
7.      Kunjungan Rumah
8.      Kartu Pribadi
9.      Studi Kasus

Wednesday, October 12, 2011

TENAGA BIMBINGAN DI SEKOLAH


A.   Unsur Personil Bimbingan
1.      Menurut pedoman-pedoman Resmi           
·         Dimulai pada Kurikulum Dasar 1975 yang menyebutkan Kepala Sekolah, Guru Kelas, dan Penyuluh Pendidikan.
·         Perkembangan terbaru dalam buku Kurikulum SLTP dan SMU, Petunjuk Pelaksanaan Bimbingan dan Konseling, 1994 dikatakan: “Personil pelaksana pelayanan bimbingan adalah segenap unsur yang terkait di dalam organogram pelayanan bimbingan, dengan koordinator dan guru pembimbing/ konselor sebagai pelaksana utamanya”.
·         Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 5 tahun 1980 (Pasal 9 dan 19 Ayat 3b) : Pembantu Rektor III mempunyai tugas memilih serta mengorganisasikan kegiatan yang di institusi meliputi pelaksanaan usaha mahasiswa serta usaha Bimbingan-Konseling bagi mahasiswa.

2.      Menurut Literatur profesional dalam Bahasa Inggris
Shertzer dan Stone dalam bukunya Fundamental of Guidance, menegaskan bahwa tanggung jawab jajaran tenaga bimbingan sangat bergantung pada taraf keterlibatan dan sifat tugas mereka dalam pelayanan bimbingan. Berdasarkan dua patokan itu, kelompok personil bimbingan dibagi menjadi 3, yaitu:
a.       Tenaga Bimbingan Utama : Konselor Sekolah, Tenaga Profesional dan Guru.
b.      Tenaga Administrasi Bimbingan : Koordinator Bimbingan, Kepala Sekolah dan Pejabat Kantor Wilayah atau Pejabat Yayasan.
c.    Tenaga yang Menunjang : Ahli Psikometrik, Psikolog Sekolah, Pekerja Sosial, Ahli Pengajaran Remedial, serta sumber tenaga perawatan kesehatan seperti Dokter Sekolah dan Psikiater.

3.      Klasifikasi Personil Bimbingan
a.     Konselor Sekolah, yaitu tenaga profesional yang mencurahkan seluruh waktunya pada pelayanan bimbingan (full-time guidance counselor).
b.      Guru-pembimbing atau guru-konselor, yaitu guru yang mengajar di satu bidang studi dan juga dalam pelayanan bimbingan, termasuk layanan konseling.
c.       Guru, yaitu pengajar yang melibatkan diri dalam pelayanan bimbingan.
d.      Sumber tenaga penunjang, yaitu tenaga spesialis (psikolog klinis, psikiater, dst).

B.   Pendidikan Konselor Sekolah
1.      Pendidikan Akademik
Sejak tahun 1992, Program pendidikan akademik bagi konselor sekolah pada IKIP Negeri adalah program studi Bimbingan dan Konseling. Program studi Bimbingan Konseling harus menyelesaikan minimal 144 SKS, termasuk mata kuliah Profesionalisasi Bimbingan Konseling.

2.      Perkembangan Kepribadian
Menurut Belkin, ada tiga kualitas kepribadian konselor sekolah, yaitu:
a.       Mengenal diri sendiri.
b.      Memahami orang lain.
c.       Kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
                                                       
C.   Tantangan-tantangan yang Dihadapi oleh Konselor Sekolah
1.      Keadaan di Amerika Serikat
Tantangan yang dihadapi tenaga profesional di lembaga pendidikan Amerika Serikat dikaitkan dengan uraian tentang tugas (function) dan peranan (role) tenaga bimbingan, serta berbagai konflik yang dapat timbul mengenai peranannya di sekolah.

2.      Keadaan di Indonesia
Tantangan yang dihadapi oleh seorang konselor Indonesia di jenjang pendidikan menengah dikelompokkan dalam beberapa kategori sbb:
a.       Diri konselor sendiri.
b.      Pimpinan sekolah.
c.       Staf guru.
d.      Para siswa.
e.       Orangtua.
f.       Suasana di sekolah dan keadaan dunia pendidikan.
g.      Berwawasan luas, berpikir kreatif dan bertindak tepat.
h.      Berpendirian teguh tentang jabatannya sebagai profesi.

DAFTAR PUSTAKA
Winkel, W. S & Sri, Hastuti. (2010). Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi.



Tuesday, October 11, 2011

Kelompok 4 BK

Harri Muda Swadesi. S (08-002)
Risa Fadila (08-003)
Dina Dara Ginting (08-007)
Rica Amelia (08-044)
Nadrah Husnah (08-115)

Bahan Presentasi : Bab 4 "Tenaga Bimbingan di Sekolah"